Pencarian di seluruh website

Aplikasi Customer Service Omnichannel Terbaik untuk Bisnis di Indonesia: Fitur dan Cara Memilih

21

Ringkasan artikel:Panduan ini membahas cara memilih aplikasi customer service omnichannel untuk bisnis di Indonesia dengan membandingkan aspek yang paling relevan bagi operasional layanan pelanggan. Pembahasan mencakup dukungan WhatsApp, media sosial, email, live chat, dan telepon, serta shared inbox, routing, ticketing, SLA, histori pelanggan, integrasi CRM, analitik, keamanan, dan model biaya. Artikel juga menjelaskan perbedaan antara software omnichannel Indonesia dan CRM penjualan murni, sekaligus memberikan checklist berbeda untuk UMKM yang sedang tumbuh dan perusahaan besar. Cocok untuk Head of Customer Service, Manajer CX, dan Tim TI yang sedang menyusun shortlist platform customer service terpadu.

Segera coba solusi layanan pelanggan Udesk secara gratis
Segera coba solusi layanan pelanggan Udesk secara gratis
Coba gratis>>
Pusat Panggilan Udesk AI Agent, pengalaman berkualitas tinggi
Pusat Panggilan Udesk AI Agent, pengalaman berkualitas tinggi
Coba gratis>>
Sistem Tiket Udesk, membuat layanan lebih ramah dan peduli
Sistem Tiket Udesk, membuat layanan lebih ramah dan peduli
Coba gratis>>
 

Oleh Dewanto Pratama

Dewanto Pratama, Manajer Produk di Udesk. Ia fokus pada desain platform pusat kontak omnichannel, termasuk modul tiket, pusat panggilan cloud dan layanan pelanggan cerdas.

Aplikasi customer service omnichannel semakin dibutuhkan ketika pelanggan berpindah dari WhatsApp ke Instagram, email, live chat, atau telepon tetapi tetap mengharapkan perusahaan memahami konteks percakapan sebelumnya. Saat membandingkan software omnichannel Indonesia, Head of Customer Service, Manajer CX, dan Tim TI perlu melihat apakah platform tersebut benar-benar dapat menjadi sistem customer service terpadu, bukan hanya mengumpulkan beberapa kanal ke dalam satu layar.

Apa yang harus dimiliki aplikasi customer service omnichannel

Platform omnichannel untuk layanan pelanggan seharusnya menyatukan kanal sekaligus proses penanganannya. Agen perlu mengetahui siapa yang sedang menangani percakapan, riwayat komunikasi sebelumnya, status tiket, prioritas kasus, serta batas waktu SLA tanpa berpindah-pindah aplikasi.

Karena itu, shared inbox menjadi fondasi pertama. Setelah pesan masuk, routing menentukan siapa yang menerima kasus berdasarkan antrean, kapasitas, skill, bahasa, atau jenis pertanyaan. Ticketing kemudian dibutuhkan ketika masalah tidak dapat selesai dalam satu percakapan dan harus diteruskan ke tim lain.

SLA juga tidak boleh diperlakukan sebagai fitur tambahan. Sistem perlu membantu supervisor mengetahui tiket mana yang mendekati batas waktu respons atau penyelesaian. Dari sisi analitik, perusahaan setidaknya perlu memantau volume kontak, first response time, resolution time, backlog, SLA compliance, dan CSAT.

Bagi Tim TI, penilaian perlu diteruskan ke API, integrasi CRM dan sistem back-office, SSO, kontrol hak akses, audit log, retensi data, serta mekanisme ekspor. Detail keamanan sebaiknya diverifikasi berdasarkan dokumentasi vendor dan persyaratan internal perusahaan, bukan hanya berdasarkan klaim pemasaran.

Omnichannel Customer Service

Omnichannel customer service berbeda dari CRM penjualan

Kesalahan yang cukup sering terjadi adalah memasukkan CRM penjualan dan aplikasi customer service omnichannel ke dalam shortlist yang sama tanpa membedakan fungsi keduanya.

CRM sales biasanya berpusat pada lead, opportunity, pipeline, forecast, dan aktivitas tenaga penjualan. Sebaliknya, tim customer service membutuhkan antrean kasus, ticketing, routing, SLA, eskalasi, histori penyelesaian, serta dashboard operasional.

Perusahaan yang sudah memiliki CRM tidak selalu perlu menggantinya. Dalam banyak situasi, pendekatan yang lebih praktis adalah mengintegrasikan CRM dengan platform customer service sehingga data pelanggan tetap dapat digunakan oleh sales dan CS, sementara masing-masing sistem menjalankan fungsi yang memang dirancang untuknya.

Pilihan aplikasi customer service omnichannel

Udesk

Udesk menyediakan pengelolaan WhatsApp Business API, Instagram, Facebook, email, live chat, telepon, serta kanal e-commerce dalam lingkungan layanan yang sama. Platform ini juga mencakup intelligent routing dan ticket management, sehingga percakapan yang tidak selesai pada kontak pertama dapat diteruskan ke workflow yang lebih terstruktur.

Bagi perusahaan yang memiliki proses setelah percakapan, misalnya pengecekan pesanan, logistik, retur, atau tindak lanjut lintas departemen, hal yang perlu diperhatikan adalah kemampuan integrasi dengan ERP, OMS, WMS, dan sistem perusahaan lainnya. Informasi mengenai cakupan produk dapat dilihat pada halaman resmi Udesk Indonesia didan halaman omnichannel global Udesk di .

Salah satu kasus resmi yang cukup relevan berasal dari Watsons. Dalam studi kasus yang dipublikasikan Udesk, Watsons menggunakan sistem customer service SaaS dengan intelligent routing dan automation untuk menangani kebutuhan layanan yang terus berkembang. Komunikasi multikanal dan multibahasa juga menjadi bagian dari penerapannya. Karena informasi hasil implementasi tersebut berasal dari vendor, kasus ini sebaiknya digunakan sebagai referensi penerapan, bukan sebagai jaminan bahwa hasil yang sama akan terjadi pada setiap perusahaan. Kasus lengkap dapat diperiksa melalui.

Zendesk

Zendesk menggabungkan ticketing, messaging, email, live chat, voice, dan workspace agen dalam satu ekosistem. Omnichannel routing dapat mempertimbangkan status serta kapasitas agen, sedangkan fungsi seperti skill-based routing dan pengelolaan SLA yang lebih kompleks bergantung pada paket yang digunakan.

Zendesk layak dipertimbangkan oleh tim yang sudah memiliki proses helpdesk cukup terstruktur. Namun, perusahaan perlu membandingkan fitur pada paket yang benar-benar akan dibeli karena kemampuan routing, AI, voice, dan beberapa fungsi lanjutan dapat berada pada tier atau add-on yang berbeda.

Freshdesk Omni

Freshdesk Omni menggabungkan ticketing dengan kanal digital dan voice dalam lingkungan layanan pelanggan. Sistem ini menyediakan SLA, automation, reporting, serta assignment berdasarkan aturan tertentu.

Platform ini dapat cocok bagi perusahaan yang sebelumnya menggunakan helpdesk berbasis tiket dan ingin menambah kanal secara bertahap. Saat menghitung biaya, periksa bukan hanya lisensi agen, tetapi juga AI, connector, dan fitur tambahan yang akan digunakan dalam operasi sehari-hari.

Intercom

Intercom banyak digunakan untuk layanan pelanggan yang berpusat pada percakapan digital. Email, live chat, WhatsApp, Instagram, Facebook, SMS, serta phone dapat dikelola melalui inbox yang sama, kemudian dihubungkan dengan ticketing, workflow, SLA, dan AI.

Perusahaan dengan produk SaaS atau aplikasi digital dapat memasukkannya ke shortlist, tetapi struktur biaya perlu diperiksa dengan cermat karena selain biaya seat terdapat pula komponen penggunaan untuk kanal atau fungsi tertentu.

Qiscus

Qiscus menawarkan Omnichannel Chat, WhatsApp Business API, Helpdesk, CRM, dan Call Center dalam portofolio yang ditujukan untuk bisnis Indonesia. Pendekatan ini relevan bagi perusahaan yang menjadikan WhatsApp dan kanal messaging sebagai titik utama layanan pelanggan.

Namun, pembeli tetap perlu memeriksa fungsi mana yang masuk dalam paket utama dan mana yang berada pada modul atau add-on terpisah. Pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya apakah WhatsApp tersedia, tetapi juga apakah ticketing, SLA, auto-assignment, histori pelanggan, dan reporting sudah memenuhi proses CS perusahaan.

Mekari Qontak

Mekari Qontak menggabungkan omnichannel dengan CRM, ticket management, SLA, dan fungsi pengelolaan data pelanggan. Pendekatan ini dapat menarik bagi organisasi yang ingin mendekatkan aktivitas sales dan customer service dalam satu ekosistem.

Meski demikian, evaluasi tetap sebaiknya dimulai dari tujuan proyek. Jika masalah utamanya adalah backlog layanan dan keterlambatan respons, maka ticketing, routing, eskalasi, kapasitas agen, dan SLA harus menjadi kriteria utama, bukan banyaknya fungsi sales atau marketing yang ikut tersedia.

Cara membandingkan platform tanpa terjebak daftar fitur

Daftar fitur vendor sering terlihat serupa. Karena itu, perusahaan lebih baik menyiapkan beberapa skenario operasional nyata dan meminta setiap vendor mendemonstrasikan alur yang sama.

Contohnya, pelanggan menghubungi melalui WhatsApp untuk menanyakan pesanan, kemudian mengirim keluhan lewat Instagram dan akhirnya meminta berbicara melalui telepon. Selama demo, periksa apakah identitas pelanggan tetap terhubung, apakah agen dapat melihat histori tanpa membuka
aplikasi lain, kapan tiket dibuat, siapa pemilik kasus, bagaimana SLA dihitung, dan apa yang terjadi ketika kasus perlu diteruskan ke bagian lain.

Cara ini juga membantu Head of Customer Service dan Manajer CX menilai pengalaman pelanggan, sementara Tim TI dapat melihat berapa banyak sistem yang perlu diintegrasikan dan data apa yang berpindah di antara sistem tersebut.

Checklist untuk UMKM yang sedang tumbuh

UMKM tidak perlu langsung membeli platform dengan arsitektur paling kompleks. Prioritas awal biasanya adalah memastikan WhatsApp, Instagram, email, dan live chat dapat masuk ke satu inbox, setiap percakapan memiliki penanggung jawab, histori pelanggan tersimpan, dan tiket dapat dibuat jika masalah membutuhkan tindak lanjut.

Periksa pula apakah aturan assignment, jam kerja, template, dan SLA dapat diubah oleh admin tanpa selalu meminta bantuan developer. Dari sisi biaya, hitung kebutuhan agen untuk enam sampai dua belas bulan ke depan, bukan hanya jumlah pengguna saat ini. Kemampuan menambah kanal, agent seat, workflow, dan integrasi tanpa migrasi besar juga perlu dipertimbangkan sejak awal.

omnichannel Indonesia

Checklist untuk perusahaan besar

Perusahaan besar sebaiknya memulai dari pemetaan kanal, volume, brand, bahasa, negara, business unit, dan jenis kasus. Setelah itu, vendor perlu diuji pada skill-based routing, SLA bertingkat, priority queue, eskalasi lintas departemen, serta konsolidasi histori pelanggan.

Tim TI dan security perlu terlibat sebelum shortlist dipersempit. API, SSO, role-based access, audit log, encryption, retensi data, data residency, backup, mekanisme ekspor, serta rencana keluar dari platform perlu diperiksa bersama dengan kemampuan integrasi CRM, ERP, OMS, WMS, dan data warehouse.

Perhitungan biaya juga harus menggunakan total cost of ownership. Selain lisensi agen, masukkan biaya WhatsApp, telepon, AI, storage, implementasi, integrasi, support, serta pertumbuhan volume selama masa kontrak.

Model biaya yang perlu diperiksa

Harga awal jarang menggambarkan biaya sebenarnya dari sistem customer service terpadu. Satu vendor dapat menggunakan harga per agen, vendor lain menggabungkan jumlah pengguna dengan MAU, sedangkan fitur AI, WhatsApp, telephony, atau add-on dapat dihitung terpisah.

Karena itu, perusahaan sebaiknya memberikan asumsi volume yang sama kepada setiap vendor, kemudian meminta simulasi biaya menggunakan periode yang sama. Cara ini menghasilkan perbandingan yang lebih adil daripada sekadar membandingkan harga paket terendah di halaman pricing.

FAQ

Q:Apa perbedaan omnichannel dan multichannel customer service?

A:Multichannel berarti perusahaan menyediakan beberapa kanal, tetapi masing-masing kanal masih dapat berjalan sendiri. Omnichannel menghubungkan kanal dengan histori pelanggan, routing, tiket, dan workflow sehingga konteks tetap terbawa ketika pelanggan berpindah kanal.

Q:Apakah CRM bisa menggantikan aplikasi customer service omnichannel?

A:Tidak selalu. CRM penjualan terutama mengelola lead dan pipeline, sedangkan layanan pelanggan memerlukan ticketing, SLA, eskalasi, antrean kasus, dan reporting operasional. Keduanya dapat diintegrasikan jika perusahaan membutuhkan fungsi sales dan customer service sekaligus.

Q:Apa fitur utama software omnichannel Indonesia?

A:Untuk sebagian besar bisnis, fitur yang perlu diperiksa terlebih dahulu adalah WhatsApp dan kanal utama lainnya, shared inbox, routing, ticketing, SLA, histori pelanggan, integrasi, analitik, serta kontrol keamanan.

Q:Bagaimana memilih platform yang tepat?

A:Gunakan data dan kasus nyata perusahaan untuk menjalankan demo. Jangan hanya menilai jumlah fitur. Platform yang tepat adalah platform yang dapat mengelola alur pelanggan dari kontak pertama sampai penyelesaian kasus dengan jumlah perpindahan aplikasi seminimal mungkin.

Optimalkan layanan pelanggan dan kurangi beban tim dengan Sistem Layanan Pelanggan Udesk! Coba gratis sekarang dan rasakan efisiensi yang berbeda.

Klik gambar di bawah ini untuk uji coba gratis>>

Artikel ini merupakan karya asli Udesk. Jika akan diterbitkan ulang, wajib selalu mencantumkan sumber aslinya:https://id.udeskglobal.com/blog/aplikasi-customer-service-omnichannel-terbaik-untuk-bisnis-di-indonesia-fitur-dan-cara-memilih

 

OmnichannelOmnichannel Customer Serviceomnichannel Indonesia

 

next: prev:

 

 

Artikel terkait Aplikasi Customer Service Omnichannel Terbaik untuk Bisnis di Indonesia: Fitur dan Cara Memilih

Rekomendasi artikel terkini

Expand more!